Libur tengah semester tiba!
Beberapa dari teman sekamar, menunggu jemputan pulang dan sebagian besar lagi memang sudah pulang kampung.
Beberapa dari teman sekamar, menunggu jemputan pulang dan sebagian besar lagi memang sudah pulang kampung.
Aku memperhatikan dari jendela kamar, orang-orang yang turun dari bus besar; berharap ada yang bisa kukenali sebagai orangtua tapi nihil sampai seharian, justru temanku yang sudah dijemput.
Aku bahkan tak ingat pulangnya kapan, aku hanya ingat saat kembali ke asrama dalam kebosanan dan suntuk.
Aku masih belum bisa menerima, kebangkrutan 1998 dan masih tak percaya harus kembali lagi ke asrama.
Saat diasrama aku tak mau ikut kegiatan apapun, hanya tidur dan bersedih.
Sampai akhirnya aku dapet temen baru, yang ayahnya mencoba menenangkanku dengan pura-pura menelpon orangtuaku, dan manjurlah dengan yang 2000 rupiah.
Entah dengan teknik apa aku merasa tenang dan baru merasakan sosok ayah, lalu esoknya aku kembali normal beraktifitas.
Baru kemudian aku mengetahui sosok ayah kemarin adalah ayah dari siswa baru yang bernama Sadam.
Siapa yang sangka tentang berhubungan dengan orang baru, sudah pasti akan terjadi suka sampai konflik pertemanan dikemudian hari.
Inilah awal dari pertemananku dengan Sadam dan berakhir dengan konflik bullying.
(Pelajaran:
Dalam hubungan dengan oranglain, entah itu teman, sahabat, kekasih, kepercayaan bahkan berkeluarga. Hampir pasti selalu ada pasang surut, entah itu cek-cok, pertengkaran, salah paham sampai pengkhianatan.)
Selalu waspada!
Dalam hubungan dengan oranglain, entah itu teman, sahabat, kekasih, kepercayaan bahkan berkeluarga. Hampir pasti selalu ada pasang surut, entah itu cek-cok, pertengkaran, salah paham sampai pengkhianatan.)
Selalu waspada!
Comments
Post a Comment
Apa pendapatmu tentang cerita diatas?