Saat akhirnya sebagian besar teman sekamarku pulang dan meneruskan SMP di kampung masing-masing, aku masih menunggu ketidak-jelasan;
Aku belum dijemput pulang, sementara tahun ajaran baru sudah mulai dan bahkan aku tidak mendaftar SMP!
Ya, karena aku tak ada uang untuk membeli formulir (yang kalau tak salah waktu itu, tahun 2005, biayanya Rp 35,000)
Ya, karena aku tak ada uang untuk membeli formulir (yang kalau tak salah waktu itu, tahun 2005, biayanya Rp 35,000)
Disamping itu ada beberapa anak yang meneruskan SMP di asrama ini,
Hebatnya, angkatan tahun ini banyak yang mendaftar ke asrama, jadilah kami (kelas 1 SMP) mendapat dua kamar,
1 kamar untuk lemari-lemari sampai membentuk labirin (penuh, rapat dan rapi),
1 kamar lagi untuk tidur, belajar, sholat berjamaah dan sejenisnya, walaupun kadang aku lebih suka tidur di mushola atau didepan lemariku sendiri....
Hebatnya, angkatan tahun ini banyak yang mendaftar ke asrama, jadilah kami (kelas 1 SMP) mendapat dua kamar,
1 kamar untuk lemari-lemari sampai membentuk labirin (penuh, rapat dan rapi),
1 kamar lagi untuk tidur, belajar, sholat berjamaah dan sejenisnya, walaupun kadang aku lebih suka tidur di mushola atau didepan lemariku sendiri....
Aku berada dalam masa kritis saat itu, uang saku habis dan aku seperti anak hilang tak terurus,
Untunglah, aku tetap bisa ikut sekolah SMP, walau entah bagaimana prosedurnya sampai namaku ada di Absen kelas dan aku menggunakan baju putih SD-ku yang hanya ditempel logo SMP,
Ditambah lagi ada 2 temanku (yang aku ingat salah-satunya adalah Akbar alfasani) yang terus memberiku support untuk menelpon orangtuaku berkali-kali dan meyakinkan aku bahwa orangtuaku akan datang menjemput atau menambah uang saku.
Saat SMP inilah, saat bagi santri yang sudah SMP dan SMA diharuskan menjalani puasa daud dan pada hari biasa hanya makan 2X!
Semester SMP pertamaku ini, aku mengenal namanya mikroskop cahaya, bagaiamana aku melihat rambutku yang terlihat besar!
Ya, kami sekelas mendapat giliran untuk melihat rambut kami masing-masing, hanya saja itu harus mencabut sendiri dari kepala masing-masing...
Ya, kami sekelas mendapat giliran untuk melihat rambut kami masing-masing, hanya saja itu harus mencabut sendiri dari kepala masing-masing...
Walaupun harus bergiliran karena mikroskopnya hanya satu, but it was amazing experience
Sampai tak terasa aku merasa nyaman dengan teman-teman baruku, dan disaat seperti inilah justru aku dijemput pulang,
Aku berjalan terhuyung dari lantai 3 kamarku, menyadari bahwa aku akan pisah untuk selamanya,
Begitu dilantai satu, tangisku pecah....
Begitu dilantai satu, tangisku pecah....
Aku berjalan dari tangga ke gerbang asrama dengan menangis sedih;
- Teringat kali pertama aku dan orangtuaku menunggu gerbang buka, saat pertamakali aku datang,
-Teringat saat aku berusaha menyimpan sepatu ayahku agar orangtuaku tetap tinggal,
- Teringat saat aku marah, kesal dengan ibuku, karena saat itu, setelah sekian lama tak ditengok dan kehabisan uang saku, aku malah hanya diberi beberapa lembar pecahan 500, 1000 dan 5000, dan aku melemparnya lalu jadilah seperti hujan uang,
- Teringat kali pertama aku dan orangtuaku menunggu gerbang buka, saat pertamakali aku datang,
-Teringat saat aku berusaha menyimpan sepatu ayahku agar orangtuaku tetap tinggal,
- Teringat saat aku marah, kesal dengan ibuku, karena saat itu, setelah sekian lama tak ditengok dan kehabisan uang saku, aku malah hanya diberi beberapa lembar pecahan 500, 1000 dan 5000, dan aku melemparnya lalu jadilah seperti hujan uang,
Tangisku semakin pecah saat aku melewati mushola tempat aku dan teman-teman mangaji, sesak dada ini, lebih sakit dan sedih dibanding saat pertamakali tinggal diasrama...
Teman-teman Guru-guruku dan Sahabat-sahabat masa kecilku,
Kalian selalu dihatiku-Doaku menyertai kalian,
Semoga kalian beruntung dan memiliki pendapatan yang cukup untuk menjalani kehidupan ini, Juga tetap beribadah dengan baik, lebih baik dari saat kita dulu belajar diasrama.
Kalian selalu dihatiku-Doaku menyertai kalian,
Semoga kalian beruntung dan memiliki pendapatan yang cukup untuk menjalani kehidupan ini, Juga tetap beribadah dengan baik, lebih baik dari saat kita dulu belajar diasrama.
Terimakasih.
Comments
Post a Comment
Apa pendapatmu tentang cerita diatas?